Search blog...

Apakah Cara Merawat Wajah Berbeda Untuk Setiap Orang?

Apakah Cara Merawat Wajah Berbeda Untuk Setiap Orang?

Pernahkah kamu bertanya, apakah kita benar-benar butuh skincare? Atau bingung apakah cara merawat wajah berbeda untuk setiap orang? Dengan perkembangan, inovasi dan penelitian berlanjut pada kulit, kita mulai sadar bahwa skincare tidak seperti kaos putih yang cocok untuk kebanyakan orang.

Pastinya apapun jenis kelamin atau jender, kamu butuh skincare untuk menjaga kesehatan kulit. Kulit manusia sangat sensitif terhadap perubahan kadar hormon dalam tubuh selain itu, kulit juga dipengaruhi oleh gaya hidup, lingkungan dan pastinya genetik. Oleh sebab itu, masing-masing dari kulit kita memiliki keunikan tersendiri. Berikut alasan kenapa kita semua perlu tahu cara merawat wajah dengan benar:

  • Setiap saat, kulit kita kehilangan kelembapan secara pasif atau disebut juga sebagai transepidermal water loss.

    Menurut International journal of women’s dermatology, transepidermal water loss atau disebut juga sebagai TEWL digunakan untuk menilai kesehatan kulit dari fungsi pelindung kulit atau skin barrier function. Semakin rendah TEWL, berarti fungsi kulit dapat bekerja secara optimal.

    Semua orang butuh pelembap, walaupun kulit berminyak sekalipun. Untuk kamu yang memiliki kulit kering, berarti daya kulit dalam mengikat air lebih rendah, sehingga kulit kering akan sangat diuntungkan dengan pemakaian pelembap berbasis minyak.

    Untuk kulit kombinasi dan berminyak lebih cocok memakai pelembap dengan bentuk emulsi atau berbasis air.

  • Produksi sebum pada wajah tergantung pada kadar hormon dan jenis kulit.

    Kulit berminyak terjadi ketika kelenjar minyak memproduksi terlalu banyak sebum. Sebum adalah zat berminyak yang melindungi dan melembabkan kulit dan sangat penting untuk menjaga kesehatan kulit. Namun, terlalu banyak sebum dapat menyebabkan kulit berminyak, pori-pori tersumbat, dan jerawat.

    Meskipun perempuan tidak memproduksi testosteron sebanyak pria, testosteron mungkin masih berperan dalam produksi sebum yang menyebabkan jerawat. Dalam sebuah penelitian dari European journal of obstetrics, gynecology, and reproductive biology, peneliti mengamati tingkat hormon dari 207 perempuan berusia antara 18 dan 45 tahun dengan jerawat. Mereka menemukan bahwa 72% perempuan dengan jerawat memiliki kelebihan hormon androgen, termasuk testosteron.

    Tetapi produksi sebum juga dapat disebabkan oleh faktor luar seperti jenis kulit, gaya hidup dan lingkungan menurut studi yang dilakukan oleh Dermato-endocrinology. Sehingga, eksfoliasi secara rutin antara 3 sampai 4 kali seminggu sangat dianjurkan, apalagi untuk jenis kulit berminyak. Juga, jangan lupa untuk rajin mencuci wajah setelah melakukan aktivitas berat.

  • Elastisitas kulit pada wajah menurun seiring dengan usia.

    Sudah bukan hal yang asing lagi, kalau cara merawat wajah usia 45 berbeda dengan merawat wajah anak remaja. Tanda-tanda penuaan dan keriput adalah tanda kulit kehilangan kolagen.

    Bertambahnya usia membuat kulit semakin lambat dalam memperbaiki sel. Selain itu, menurut artikel Exp Dermatol mengatakan kulit kendur, keriput, perubahan pigmen, serta banyak perubahan internal pada struktur dan fungsi epidermis juga disebabkan oleh paparan sinar matahari, khususnya ultraviolet.

    Sehingga, skincare rutin tidak akan lengkap tanpa kehadiran sunscreen. Jangan lupa untuk selalu memakai sunscreen, juga jangan lupa untuk mengaplikasikan sunscreen setiap 2 jam jika kamu berada di luar.

  • Kita perlu menjaga pH kulit tetap seimbang.

    Pasti sudah sering mendengar tentang pH kulit wajah yang merupakan salah satu faktor untuk mencapai kulit sehat idaman semua orang, yaitu kulit dengan pH seimbang sekitar pH 5.0 - 5.5. Menjaga kulitmu tetap pada tingkat keasaman ini dapat membuat wajah kamu terbebas dari bakteri penyebab jerawat.

    Kulit dengan pH seimbang menjaga lapisan pelindung seperti mantel yang merupakan kunci pelindung kulit. Keasaman dari lapisan ini menetralkan iritan, menghambat pertumbuhan bakteri dan memulihkan serta memelihara lingkungan asam yang optimal dimana flora alami kulit dapat tumbuh dengan subur.

    Beberapa studi memperlihatkan bahwa tingkat pH kulit dipengaruhi oleh pemakaian skincare. Oleh sebab itu, disarankan untuk memilih skincare dengan pH seimbang, seperti menggunakan pembersih wajah yang lembut dan menjauhi bahan-bahan yang dapat mengiritasi kulit, seperti pewarna artifisial, atau deterjen.

Skincare Menjadi Bagian Penting Dalam Kesehatan

Cara merawat wajah setiap orang berbeda tergantung pada jenis kulit, gaya hidup dan usia. Sehingga, skincare yang dipersonalisasi secara khusus dapat membantu menyelesaikan masalah kulit kamu dengan efektif. Dengan begitu, mengetahui cara merawat wajah sesuai dengan kondisi kulit kamu adalah sebuah investasi di masa depan.

Mulai investasikan skincare kamu bersama BASE Personalized Skincare yang diformulasikan dengan bahan-bahan efektif yang sudah teruji secara klinis.

Referensi:

  1. Amano S. Characterization and mechanisms of photoageing-related changes in skin. Damages of basement membrane and dermal structures. Exp Dermatol. 2016;25 Suppl 3:14-19. doi:10.1111/exd.13085
  2. Ezure T, Yagi E, Kunizawa N, Hirao T, Amano S. Comparison of sagging at the cheek and lower eyelid between male and female faces. Skin Res Technol. 2011;17(4):510-515. doi:10.1111/j.1600-0846.2011.00526.x
  3. Liu, Z., Song, S., Luo, W., Elias, P. M., & Man, M. Q. (2012). Sun-induced changes of stratum corneum hydration vary with age and gender in a normal Chinese population. Skin research and technology : official journal of International Society for Bioengineering and the Skin (ISBS) [and] International Society for Digital Imaging of Skin (ISDIS) [and] International Society for Skin Imaging (ISSI), 18(1), 22–28. https://doi.org/10.1111/j.1600-0846.2011.00536.x
  4. Luebberding S, Krueger N, Kerscher M. Skin physiology in men and women: in vivo evaluation of 300 people including TEWL, SC hydration, sebum content and skin surface pH. Int J Cosmet Sci. 2013;35(5):477-483. doi:10.1111/ics.12068
  5. Makrantonaki, E., Ganceviciene, R., & Zouboulis, C. (2011). An update on the role of the sebaceous gland in the pathogenesis of acne. Dermato-endocrinology, 3(1), 41–49. https://doi.org/10.4161/derm.3.1.13900
  6. Pochi PE, Strauss JS. Endocrinologic control of the development and activity of the human sebaceous gland. J Invest Dermatol. 1974;62(3):191-201. doi:10.1111/1523-1747.ep12676783
  7. Rahrovan, S., Fanian, F., Mehryan, P., Humbert, P., & Firooz, A. (2018). Male versus female skin: What dermatologists and cosmeticians should know. International journal of women’s dermatology, 4(3), 122–130. https://doi.org/10.1016/j.ijwd.2018.03.002
  8. Roh M, Han M, Kim D, Chung K. Sebum output as a factor contributing to the size of facial pores. Br J Dermatol. 2006;155(5):890-894. doi:10.1111/j.1365-2133.2006.07465.x
  9. Uysal, G., Sahin, Y., Unluhizarci, K., Ferahbas, A., Uludag, S. Z., Aygen, E., & Kelestimur, F. (2017). Is acne a sign of androgen excess disorder or not?. European journal of obstetrics, gynecology, and reproductive biology, 211, 21–25. https://doi.org/10.1016/j.ejogrb.2017.01.054

Was this article helpful?

Related Stories